Tidak semua kandidat terbaik berasal dari jurusan yang paling relevan. Dalam banyak proses rekrutmen, pengalaman yang tepat sering kali menjadi pembeda utama.

Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul dalam proses rekrutmen adalah: mana yang lebih penting, pengalaman atau jurusan pendidikan?

Misalnya ada dua kandidat yang melamar posisi Human Resource.

Kandidat pertama berasal dari jurusan yang mungkin tidak terlalu relevan. Namun ia telah bekerja selama lebih dari dua tahun sebagai staf administrasi dan administrasi HR. Selain itu, ia juga aktif mengikuti pelatihan dan mengembangkan kompetensinya.

Di sisi lain, ada kandidat lulusan Psikologi atau Hukum yang secara pendidikan lebih dekat dengan bidang Human Resource, tetapi belum memiliki pengalaman kerja yang relevan.

Kira-kira siapa yang akan lebih dipertimbangkan?

Dari pengalaman saya membantu proses rekrutmen, jawabannya sering kali adalah kandidat yang memiliki pengalaman relevan.

Bukan berarti pendidikan tidak penting. Namun ketika sebuah posisi membutuhkan kemampuan yang dapat langsung digunakan, pengalaman biasanya menjadi nilai tambah yang sangat besar.

Pengalaman membuat seseorang lebih memahami situasi kerja yang nyata. Ia sudah pernah menghadapi berbagai karakter manusia, memahami alur pekerjaan, terbiasa menggunakan sistem atau tools tertentu, dan mengetahui tantangan yang kemungkinan akan ditemui dalam pekerjaan tersebut.

Sederhananya, perusahaan tidak hanya mencari orang yang memahami teori, tetapi juga orang yang sudah terbiasa menjalankan pekerjaannya.

Karena itulah tidak jarang seseorang yang berasal dari jurusan yang berbeda tetap dapat bersaing dan bahkan unggul dalam proses seleksi apabila memiliki pengalaman yang relevan.

Namun bagaimana dengan fresh graduate?

Menurut saya, peluang mereka tetap sangat besar.

Sebagian besar profesional yang berpengalaman hari ini juga pernah memulai karier sebagai fresh graduate yang belum memiliki pengalaman apa pun.

Perusahaan tetap membutuhkan talenta baru, terutama untuk posisi entry level atau posisi yang memang dirancang untuk pembelajaran dan pengembangan.

Pada tahap ini, pendidikan, kemampuan belajar, keaktifan organisasi, sertifikasi, pelatihan, hingga sikap saat proses seleksi menjadi faktor yang sangat diperhatikan.

Pada akhirnya, saya melihat bahwa pendidikan dan pengalaman bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Jika pengalaman relevan tersedia, perusahaan cenderung mempertimbangkannya lebih dahulu karena kebutuhan bisnis yang harus segera dijalankan.

Namun jika pendidikan dan pengalaman sama-sama relevan, kandidat tersebut biasanya memiliki nilai yang lebih kuat dibanding kandidat lainnya.

Dunia kerja pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membangun kompetensi dan membuktikannya melalui pengalaman yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan