Setelah berada di dua sisi yang berbeda, saya menyadari bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak sesederhana “sulit cari kerja” atau “sulit cari karyawan”. Keduanya memiliki tantangan masing-masing yang sering kali tidak terlihat dari luar.
Belakangan ini saya sering mendengar keluhan bahwa mencari pekerjaan semakin sulit. Jujur saja, saya tidak sepenuhnya membantah hal tersebut. Persaingan memang semakin ketat dan jumlah pelamar dalam satu lowongan kerja bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang.
Namun setelah beberapa tahun berada di dua sisi yang berbeda, saya mulai melihat bahwa persoalan ini tidak sesederhana itu.
Melalui Manakerja Indonesia dan layanan HR Partners yang saya jalankan, saya bertemu dengan ribuan pencari kerja setiap harinya. Di sisi lain, saya juga membantu perusahaan dalam proses rekrutmen awal, mulai dari pencarian kandidat, seleksi administrasi, pengecekan kualifikasi, hingga proses wawancara sebelum kandidat diserahkan kepada perusahaan.
Dari pengalaman tersebut, saya menemukan fakta yang cukup menarik.
Bukan hanya pencari kerja yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Banyak perusahaan juga mengalami kesulitan mendapatkan kandidat yang sesuai.
Tidak jarang sebuah posisi sudah menemukan kandidat yang cocok, proses wawancara berjalan baik, bahkan penawaran kerja sudah diberikan. Namun beberapa hari kemudian kandidat mengundurkan diri karena mendapatkan pilihan lain atau berubah pikiran.
Ada juga fenomena yang cukup sering terjadi, yaitu ghosting dalam proses rekrutmen.
Kandidat yang sebelumnya aktif berkomunikasi tiba-tiba tidak membalas pesan, tidak hadir saat wawancara online, atau menghilang tanpa memberikan kabar sama sekali. Padahal terkadang cukup dengan satu pesan sederhana bahwa mereka belum bisa melanjutkan proses karena alasan tertentu.
Bagi perusahaan, kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri karena proses pencarian harus diulang dari awal.
Di sisi lain, saya juga melihat masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh pencari kerja saat melamar.
Misalnya mengirim email tanpa subjek, tidak melampirkan CV, tidak menyertakan dokumen pendukung yang diminta, atau bahkan hanya mengirim pesan singkat seperti “lamar kerja dong” tanpa informasi apa pun.
Hal-hal kecil seperti ini sering kali dianggap sepele, padahal bisa menjadi alasan lamaran tidak pernah diproses.
Bahkan dalam beberapa kasus, email yang tidak sesuai format berpotensi masuk ke folder spam atau tidak diperhatikan oleh perekrut yang menerima ratusan lamaran setiap hari.
Menurut saya, masalah ketenagakerjaan saat ini bukan hanya soal kurangnya lapangan pekerjaan atau sulitnya mencari kandidat.
Sering kali persoalannya adalah ketidaksesuaian antara kebutuhan perusahaan dan kesiapan kandidat, ditambah dengan kurangnya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.
Apakah mencari kerja sulit?
Tentu bisa sangat sulit bagi sebagian orang.
Apakah mencari karyawan juga sulit?
Jawabannya juga iya.
Karena pada akhirnya perusahaan mencari orang yang tepat, sementara pencari kerja juga mencari tempat yang tepat untuk berkembang.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat persoalan ini hanya dari satu sisi. Sebab ketika saya berada di kedua sisi tersebut, saya menyadari bahwa tantangannya ternyata sama-sama nyata.



