Di era media sosial, banyak orang mulai percaya bahwa sebuah persoalan baru akan mendapat perhatian ketika sudah viral. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar sedang mencari keadilan, atau hanya menunggu algoritma bekerja?

Belakangan ini saya sering melihat sebuah pola yang berulang.

Ketika ada seseorang yang merasa dirugikan, langkah pertama yang terpikirkan bukan lagi melapor ke pihak terkait, melainkan membuat konten dan berharap kasusnya menjadi viral.

Dari sinilah muncul istilah yang sering kita dengar:

“No Viral, No Justice.”

Entah sejak kapan, tetapi kalimat tersebut semakin sering digunakan oleh masyarakat untuk menggambarkan kondisi yang mereka rasakan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua kasus memang harus viral untuk mendapatkan penyelesaian. Namun saya memahami mengapa banyak orang mulai memiliki anggapan tersebut.

Beberapa kasus besar yang menjadi perhatian publik memang baru mendapatkan respons luas setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

Ketika sebuah isu menjadi viral, perhatian publik meningkat. Media mulai memberitakan. Instansi terkait mulai memberikan klarifikasi. Aparat mulai bergerak. Akibatnya muncul kesan bahwa perhatian baru datang setelah tekanan publik terbentuk.

Fenomena ini membuat sebagian masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa laporan biasa akan mendapatkan perhatian yang sama.

Akibatnya, media sosial berubah fungsi. Bukan lagi hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga menjadi alat untuk mencari perhatian, dukungan, bahkan keadilan.

Menurut saya, kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

Bukan karena masyarakat bersuara, melainkan karena muncul keyakinan bahwa suara yang kecil tidak akan didengar.

Padahal idealnya, setiap laporan tetap harus diproses berdasarkan fakta dan mekanisme yang berlaku, terlepas dari apakah kasus tersebut viral atau tidak.

Di sisi lain, saya juga memahami mengapa masyarakat terkadang memilih jalur media sosial.

Ada yang merasa laporannya tidak ditanggapi.

Ada yang merasa prosesnya terlalu lama.

Ada pula yang takut menghadapi pihak yang dianggap memiliki kekuasaan, pengaruh, atau sumber daya yang lebih besar.

Ketika kepercayaan mulai menurun, media sosial menjadi tempat pelarian yang dianggap paling cepat mendapatkan perhatian.

Namun ada satu hal yang perlu diingat.

Viral tidak selalu identik dengan benar.

Tidak semua yang ramai otomatis benar, dan tidak semua yang sepi otomatis salah.

Karena itu, menurut saya tantangan terbesar hari ini bukan hanya bagaimana membuat sebuah kasus didengar, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap laporan dapat ditangani secara adil tanpa harus menunggu tekanan dari media sosial.

Sebab jika suatu hari nanti masyarakat benar-benar percaya bahwa keadilan hanya bisa diperoleh melalui viralitas, maka yang sedang bermasalah bukanlah algoritma media sosial, melainkan kepercayaan publik itu sendiri.

Tinggalkan Balasan